Jembatan akar ini terletak di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Kisah unik dan keindahan jembatan ini menjadi salah satu keunggulan objek wisata ini.
Beberapa fakta menarik tentang sejarah jembatan akar di Sumatera Barat yang harus kamu ketahui.
1. Umur jembatan 100 tahun
Jembatan akar ini awalnya dibangun pada tahun 1916 atau tepatnya 100 tahun yang lalu. Menurut cerita, dahulu ada seorang tokoh tua cerdik ulama setempat bernama Pakiah Sokan. Derasnya aliran Sungai Bayang membuat beliau berinisiatif untuk membuat jembatan sederhana dari bambu untuk menghubungkan Desa Pulut-pulut dan Desa Lubuk Silau yang terpisah oleh arus sungai.
Namun perlahan, akar dari kedua pohon yang ada mulai menjalar dan melilit di jembatan bambu tersebut. Setelah mengalami proses lama, akhirnya jadilah jembatan akar seperti sekarang.
2. Akar dari pohon beringin
Akar yang melilit jembatan tersebut hingga menjadi seperti sekarang berasal dari pohon beringin. Entah bagaimana alam menumbuhkan dua pohon beringin yang saling menghadap dan dipisahkan oleh sungai untuk menyatu kembali di kemudian hari.
Di Jawa dan sekitarnya, pohon beringin memang disakralkan oleh banyak orang. Pohon tersebut memiliki waktu hidup yang bisa dibilang lebih dari umur manusia. Semakin tua, akarnya akan menjadi panjang hingga membuat surai layaknya kanopi.
3. Panjang jembatan 25 meter
Selain dibentuk oleh alam, jembatan akar juga memiliki panjang yang tidak pendek. Secara teknis, jembatan akar memiliki panjang 25 meter dan lebar 1,5 meter serta tinggi 10 meter dari bibir sungai.
Untuk menjaga keberlangsungan hidup jembatan akar tersebut, pemkab setempat telah menambahkan tali besi pada jembatan tersebut. Fungsinya tidak untuk merusak, melainkan untuk melindungi.
Saat musim hujan, debit air Sungai Bayang bisa naik hingga menyentuh jembatan. Ditakutkan derasnya air dapat merusak jembatan akar apabila dibiarkan. Tali besi yang ada dapat mengangkat jembatan hingga melebihi debit air kala musim hujan. Lalu telah ditambahkan juga pijakan kayu agar wisatawan lebih mudah berjalan. Saat melewatinya, traveler juga diwajibkan untuk hati-hati agar tidak slip atau terjatuh.
4. Tempat rekreasi populer
Di kalangan wisatawan setempat dan sekitarnya, jembatan akar milik Kabupaten Pesisir Selatan ini sudah menjadi objek wisata populer. Saat detikTravel berkunjung, tampak muda-mudi yang diketahui berasal dari Jambi. Mereka sibuk berfoto kekinian di atas jembatan tersebut. Artinya sudah populer.
Jika ingin datang dan melihatnya secara langsung, traveler harus lebih dulu membayar retribusi sebesar Rp 5 ribu per kepala. sejumlah d'Traveler sempat menyebut harga tiket Rp 15 ribu, tapi mungkin kami mendapat harga lebih murah karena datang sore. Bagi yang membawa kendaraan juga akan kena retribusi lebih.
5. Masih ada sampah
Salah satu masalah yang masih terjadi di semua objek wisata di Indonesia, yaitu sampah! masih banyak dijumpai sampah di area jembatan akar ini. Kemungkinan adalah sampah yang ditinggalkan ara wisatawan yang kurang peduli dengan kebersihan.
Padahal sudah ada toilet umum hingga tempat sampah yang disediakan, tapi nyatanya wisatawan masih kurang dewasa dan masih membuang sampah sembarangan.
Jembatan akar dapat dicapai sekitar satu jam dari Kota Padang dengan kendaraan darat, dan setengah jam dari Kota Painan. Dari Painan, ibukota Kabupaten Pesisir Selatan, jaraknya 24 km. Sedangkan dari Kota Padang, jaraknya sekitar 80 km melewati Teluk Bayur.
Nikmati kemudahan pesan tiket pesawat murah dengan rute penerbangan menuju Padang. Cek info dan pemesanan tiket pesawat disini.


No comments:
Post a Comment